Langsung ke konten utama

Mencari Titik Temu

Kalau dalam metode numerik untuk memperoleh suatu solusi dari suatu permasalahan kadang-kadang harus dilakukan beberapa kali lelaran (= pengulangan/iterasi) dan setiap lelaran diusahakan memperkecil galat (= error) hasil lelaran sebelumnya. Adakalanya pencarian solusi tersebut menghasilkan jawaban yang diinginkan, ini disebut lelaran kovergen, dan adakalanya sangat melenceng jauh dari harapan semula, disebut lelaran divergen.

Proses di atas sedikit banyak merefleksikan proses pencarian kebenaran seorang insan untuk mencapai tujuan hakiki hidupnya. Permasalahannya sudah jelas, yaitu menemukan titik pertemuan antara fungsi perajalanan hidup insan dan sumbu garis lurus keridhaan Allah. Lelaran yang dimaksud dalam penjelasan di atas dapat dianalogikan dengan proses kritik atau rethinking untuk menilai sejauh mana hasil yang dicapai dari suatu tahapan, apakah semakin mendekatkan diri ke titik temu atau semakin jauh, dari sini diketahui apakah galat semakin mengecil atau membesar. Jika galat ternyata semakin mengecil maka insya Allah lelaran tersebut akan konvergen, dan jika sebaliknya yang terjadi lelaran tersebut menjadi divergen. Sebagai seorang beriman kita tentu saja mengharapkan perjalanan hidup kita ini merupakan lelaran yang konvergen menuju solusi kebenaran.

Banyak faktor yang mempengaruhi terwujudnya lelaran konvergen, di antaranya adalah: formulasi permasalahan, pemilihan metode, pemilihan selang atau ‘tebakan awal’ pencarian solusi, dan penentuan toleransi galat.

Formulasi permasalahan mengandung pengertian perumusan tujuan dan pengenalan kendala-kendala untuk mencapai tujuan. Karena hal ini termasuk wilayah ruhani, kita tidak dapat sembarangan merumuskannya karena tidak mempunyai ilmu sedikitpun tentang hal itu, kita harus memperolehnya dari berita (‘wahyu’) yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ. dan meyakininya. Dalam wahyu (Al-Quran) yang diturunkan kepada beliau tersebut telah dirumuskan tujuan perjalanan hidup manusia beserta batasan-batasan dan kendala-kendala yang harus dilalui. Jika rumusan dari wahyu (ilahiyah) tersebut kita ambil sebagai formulasi fungsi kehidupan ini maka keputusan tersebut merupakan langkah pertama yang besar sekali pengaruhnya terhadap kekonvergenan lelaran hidup kita.

Faktor berikutnya adalah metode yang diberlakukan terhadap rumusan di atas. Jika rumusan ilahiyah yang digunakan maka tidak ada metode lain yang paling tepat selain yang dicontohkan oleh penyampai risalah, yaitu Rasulullah ﷺ. Ada beberapa varian metode yang menjadi alternatif, selama ia masih konsisten terhadap metode Rasul (sunah), insya Allah akan mendukung proses lelaran kita. Dalam metode numerik dikenal istilah orde (derajat) metode lelaran, mulai dari orde lanjar (linear), kuadratis, sampai eksponensial. Orde metode lelaran ini berkaitan dengan kecepatan penemuan solusi, kecepatan diukur berdasarkan banyaknya lelaran. Orde ini dapat dikiaskan sebagai tingkat kedekatan kita dengan metode Rasul, semakin dekat maka semakin cepat kita memperoleh titik temu.

Faktor pemilihan selang atau ‘tebakan awal’ (tebakan awal disini maksudnya adalah keputusan yang didasari oleh ilmu) bermakna niat awal melangkah dalam proses pencarian. 


Faktor terakhir adalah toleransi galat yang menunjukkan tingkat kedekatan antara hasil (solusi hampiran/aproksimasi) proses lelaran dengan solusi sejati. Ini dapat dianalogikan dengan kedekatan hasil lelaran hidup kita dengan kebenaran hakiki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANUGERAH KEBAIKAN (HARTA) UNTUK KEBAIKAN

Allah ﷻ telah menawarkan kepada kita untuk memberikan "pinjaman yang baik". Allah ﷻ telah memberikan jalan beramal lewat harta dengan kepastian balasan yang berlipat. “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.”[Q.S. Al-Hadiid (57):11] Allah ﷻ memperkenalkan anugerah-Nya yang berupa harta dengan istilah khayr, yang dimaknai baik atau kebaikan. Ada tujuh ayat yang menggunakan kata khayr tersebut untuk makna harta (QS 2:180,215,272,273; QS 38:32; QS 70:21; QS 100:8). Amalan harta termasuk ibadah yang bersifat langgeng secara nilai dan pahala, dengan jaminan tidak terputus meskipun pemilik harta itu sudah meninggal dunia. Rasulullah ﷺ‎ menetapkan shadaqah jariyah di urutan pertama dalam haditsnya tentang ibadah yang tidak akan terputus pahalanya. Amalan harta dalam syariat Islam ada bermacam-macam, ada yang wajib ada yang sunat. Ada yang telah ditetap

WHAT'S LEFT BEHIND?

bi-smi llāhi r-raḥmāni r-raḥīm Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik . [QS. Ṣād 38:45-48] Ayat 45 surat Shaad di atas mengingatkan bahwa rasul-rasul tersebut, yang salah satunya adalah nabi Ibrahim as, mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa maksud dari "mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar" adalah yang "mempunyai kekuatan hingga mampu mengerjakan perbuatan-perbuatan yang besar". Sederhananya, nabi Ibrahim as "memiliki kemampuan dan menghasilkan

WHAT ARE THEY GOING TO KNOW?

كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ kallā saya‘lamūn ṡumma kallā saya‘lamūn Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka mengetahui. (Q.S An-Naba' [78] : 4-5)