Postingan

Object Oriented: Sudut pandangku

Object oriented (OO) atau terjemahannya berarahan objek (Anda dipersilakan menggunakan apa saja yang disukai) adalah sebuah istilah yang baru saya kenal dan belum diajarkan ketika saya kuliah sekitar awal tahun 1990-an. Walaupun di dunia, OO sudah dikenal jauh sebelum itu, pada matakuliah-matakuliah yang diajarkan di kampus masih sedikit yang menyinggungnya. Bahkan pada kuliah pemrograman, hanya ada pemrograman prosedural dan non-prosedural (fungsional, deklaratif, dll). Saat ini OO di Indonesia sudah meluas baik di kalangan akademisi maupun praktisi. Tapi saya masih menemukan kesalahpahaman orang tentang OO. Ada yang mengakatan “Apa gunanya memakai OO kalau masih bisa dengan yang dulu (dekomposisi fungsional atau metode terstruktur)?”, “OO dipakai biar perangkat lunak/tesis/tugas akhir/skripsi kelihatan wah!” atau “OO hanya teori, ketika implementasi pakai metode terstruktur”. Beberapa ungkapan bahkan berasal dari kalangan akademisi yang seharusnya memahami “sesuatu” di belakang/m...

Kilobyte vs Kibibyte

Kilobyte (kB) vs. Kibibyte (KiB atau K atau KB) Istilah kilobyte telah menimbulkan banyak masalah karena diinterpretasikan berbeda oleh berbagai kelompok. Ilmuwan komputer dahulu menggunakannya sebagai 2 10 , yaitu 1.024 byte. Insinyur telekomunikasi menggunakannya sebagai 1.000 byte. Komisi Elektroteknik Internasional ( IEC: International Electrotechnical Commission ) memutuskan pada tahun 1998 bahwa 1.024 byte adalah satu kibibyte (KiB) dan 1.000 byte sebagai satu kilobyte. Begitu juga satu mebibyte dinyatakan sebagai 2 20 dan satu megabyte adalah 1.000.000 byte (satu juta byte). Satu gibibyte dinyatakan sebagai 2 30 , dan satu gigabyte dinyatakan sebagai 1.000.000.000 byte (satu milyar byte).

camelCase

Cara penulisan identifier yang terdiri dari 2 atau lebih kata. Huruf awal suatu kata ditulis dalam huruf besar (kapital) dan huruf-huruf lainnya ditulis dalam huruf kecil. Contoh: Customer Account PrintWriter Aturan penulisan ini biasa dipakai pada bahasa pemrograman Java untuk nama Kelas dan interface .

Konsistensi = Motif + Kesadaran + Introspeksi

Hal yang tidak mudah dalam kehidupan sehari-hari adalah menjadikan diri ini konsisten. Entah melakukan apapun membutuhkan konsistensi, agar tujuan yang diinginkan tercapai. Ada beberapa hal yang dibutuhkan untuk menjaga konsistensi, antara lain: Motif Motif atau niat adalah energi penggerak awal atau trigger kita melakukan sesuatu. Semakin besar tingkatnya semakin besar percepatan dan kecepatan kita mengerjakan. Untuk itu dalam perencanaan, buatlah atau catatlah motif yang paling kuat/tinggi. Jangan membuat motif tersebut hanya ’sekadarnya’. Contoh: Pada saat kuliah, tentukanlah motif kita belajar. Apakah untuk sekadar mengejar titel, berbakti pada orang tua, atau yang lebih tinggi lagi. Kesadaran Hidup kita adalah fungsi waktu, dalam perjalananya bisa saja muncul gangguan-gangguan. Demikian juga dengan sesuatu yang telah kita niatkan dalam perjalanan waktu akan mendapat gangguan. Gangguan di sini adalah bermakna negatif, yaitu menurunkan konsistensi. Sehingga kecepatan yang te...

Booking cuti

Setelah menanti 5 bulan akhirnya bisa mengajukan cuti juga. Cuti yang diajukan adalah untuk bulan depan, tepatnya tanggal 14 - 18 Agustus. Walaupun yang kepakai cuti hanya 4 hari tapi bisa menikmati 10 hari, soalnya ada tanggal merah 2 (tanggal 17 dan 21). Prosedur ngajuin cuti sih simple-simple aja, cukup minta approve dari atasan langsung dan manajer. Cuman yang agak susah mungkin masalah transport, terutama pesawat (CASA) dari Sangatta ke Balikpapan, limited seat. Untung bukan peak season (kalau lagi liburan sekolah pasti full book) jadi masih kebagian. Booking CASA-nya tanggal 12 dan 21 Agustus dan Alhamdulillah dapat dan udah di-confirm pagi tadi. Sedangkan dari Balikpapan ke Cengkareng, akhirnya milih AirAsia aja. Selain murah juga mudah booking dan bayarnya. Kalo pakai airline yang lain harus lewat travel agent, agak ribet dan belum pasti dapat harga berapa. Siang tadi udah booking dan confirm tiket AirAsianya. Sudah cukup lama juga meninggalkan Bandung, rasanya homesi...